Thursday, January 20, 2011

Tentang Masa Lalu (part 2)

Bagaimana berdamai dengan masa lalu?

Ini bukan tentang mereka. Ini bukan tentang kalian. Ini tentang aku. Biarkan kali ini aku bercerita karena ini kisahku. Salah satu frame yang pernah aku lalui. Butuh waktu yang panjang untuk dapat berdiri disini. Entah sudah berapa malam terlewat sehingga dapat menegakkan punggung. Entah berapa hari yang terlewat untuk mengatasi sakit yang mendera, tangan yang bergetar dan kesemutan, perih hingga kedalam tulang, seluruh tubuh bergetar. Tapi itu masa lalu dari proses hidupku berdamai dengan masa lalu.
Aku memaafkan, berusaha merelakan. Itu merupakan cara pandangku dulu untuk mengatasi masa lalu. Setelah bertahun-tahun berlalu dengan segala upayaku, akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa aku belum bisa berdamai dengan masa laluku. Bukan, ini bukan tentang masa laluku tapi tentang diriku. Aku telah memaafkan tapi aku belum bisa melepaskan. Aku masih berada dalam kungkungan itu. Aku belum bisa mengikhlaskannya, tidak membiarkan masa lalu itu berlalu. Aku berusaha masuk kembali kedalam hidupnya. Padahal, satu hal yang pasti, aku sedang menyiksa diriku.
Aku membenci masa laluku, dulu. Aku menghindari segala hal yang bersinggungan dengan masa lalu. Sampai suatu hari, disaat aku menyadari bahwa tindakan ini akan aku sesali, sekarang. Aku menyesal telah mengenyahkan masa laluku, karena tidak semua hal yang terjadi itu buruk. Ada hal indah disana, sebuah persahabatan. Persahabatan yang mungkin tidak dapat ku jumpai lagi pada frame-frame lain dari kehidupanku.
Saat ini, saat aku telah berdamai dengannya, aku tersenyum menyapa, aku ceria tertawa, tanpa ada rasa sakit, tanpa ada dendam. Kadang, aku menunggu datangnya rasa pedih itu. Menunggu kapan tubuhku kembali mengigil. Tapi tidak, tidak lagi karena ku telah berdamai dengan diriku.
Bukan waktu yang singkat ku habiskan untuk mendamaikanku dengan diriku sendiri. Juga bukan hal yang mudah untuk berdamai dengan masa laluku. Waktu mengubahku, pengalaman mengasahku untuk bisa berdiri disini, mengulang kembali masa lalu, mengenang lagi hal yang lalu. Ini bukan perkara baru. Detik ini, semua semudah helaan nafas.

Tentang Masa Lalu

Bagaimanapun caranya, seperih apapun ceritanya, masa lalu tetaplah masa lalu. Walaupun hati ingin mengingkari, mata menghindari, tetapi masa lalu tetap bagian dari hidup.
Pahit, asam, asin, manis itu wajar. Namanya kehidupan.
Tangis, canda, tawa, kecewa itu biasa. Namanya bumbu pelengkap.
Apalah jadinya kehidupan jika semuanya tangisan? Betapa suramnya hidup kalau warna semua sama hitam, kelam.

Tidak semua frame itu jelek. Coba lihat yang ada disebelahnya, warnanya cerah, penuh bunga, membawa kebahagiaan. Jangan gara-gara satu frame yang jelek, maka semua frame itu buruk, busuk, dan tidak berharga
Kalau salah satu farame kehidupan itu tentang kepedihan, bersabar! Kehidupankan tidak hanya berisi satu frame. Masih banyak frame yang harus diisi, senyuman untuk dibagi, kebahagiaan untuk dirasa, kekecewaan untuk segera dihapus.

Kepahitan masa lalu tidak dapat diubah, framenya sudah diisi, disegel, digembok. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat bongkar pasang frame itu. Hanya saja kita, makhluk paling lemah, dapat berdamai dengannya, mengikhlaskan!
Jadi, ketika mengingatnya, tak ada lagi sakit. Ketika melihatnya, tak ada lagi air mata. Ketika mata terpejam, tak ada lagi nafas yang tersendat, dada yang nyeri, dan tak ada lagi tangan yang kesemutan.
Hati bebas, perasaan lepas.. ^_^

Tuesday, January 4, 2011

Ujong Pancu - Lhok Mata Ie


Ujooong Pancuuuu, we are coming!!


Taking a rest
 




Pada tanggal 2 Jan 2011 yang lalu, aq dan teman2 berlibur dengan cara yang agak beda, hiking..
Kami berjumlah 16 orang memulai hari dengan mendaki gunung. Bermaksud berangkat pukul 9 pagi tapi molor setengah jam.. ckckck.. (Hal umum yang serin terjadi di sini)
Gambar disamping diambil setelah kami mendaki kurang lebih 15 menit. Sebenarnya dalam waktu satu setengah jam kami bisa tiba di Lhok Mata Ie, tapi berhubung banyak berhenti (ngambil foto plus istirahat) jadi molor dee satu jam (lagi-lagi)..
Satu hari sebelum kami berangkat, hujan turun lebaaat banget, jadi jalur tempuh kami saat itu becek plus lumpur plus licin yang membuat adrenalin lebih terpacu, dan susaaah banget buat ngedaki.. Tapi satu hal yang pasti, SERU!
Setelah berjalan lebih dalam ke dalam hutan, kami berjumpa dengan padang ilalang.. Wah, cantiiik banget..
Gak nyangka di dalam hutan ada pemandangan seindah itu, jadi pengen pergi lagi.. :)

Ini dia padang ilalangnya. Cantikkan??
Hanya hijau sejauh mata memandang. Maka, kita harus selalu menjaga lingkungan, hutan, dan alam supaya generasi penerus juga dapat menikmati indahnya ciptaan Allah SWT. Ditempat ini, kami mengambil beberapa lembar foto sebagai kenang-kenangan..

Tidak jauh dari padang ilalang, kami menemukan illegal logging. Betapa miris hatiku saat melihat hutan telah di babat. Pohon di tebang, rumput-rumput di bakar..

Ini cuma sedikit gambar dari banyaknya hutan yang ditebang. Bukan hanya hutan di Ujong Pancu tapi di setiap hutang yang ada di Indonesia. Padahal merusak lingkungan berarti merusak masa depan. Gak ada lagi udara bersih, cuaca akan terus panas, bahkan kalu sudah parah manusia juga akan terserang banyak penyakit. Kalau sudah begitu, siapa yang patut disalahkan??????
Tentu, dan lagi-lagi MANUSIA. Kita yang merusak, kita juga yang akan menanggung akibatnya kan!
Begitu juga sampah-sampah, terlalu banyak orang-orang yang tidak sadar bahwa menjaga lingkungan itu sangat dierlukan. Sepanjang yang kami liat, ada sampah yang dibuang didalam hutan; plastik bekas mie instan, boitol-botol air mineral. Padahal sampah-sampah seperti itu akan sangat sulit didaur ulang alami oleh tanah, perlu berjuta-juta tahun hanya untuk membusukkan satu botol air mineral. Seharusnya orang-orang yang juga hiking dapat merasa lebih dekat dengan lingkungan, jangan malah ikut-ikutan merusak hutan... :(

Setelah perjalanan yang menguras tenaga (aku jatuh 3 kali, Woow), akhirnya kami sampai di Lhok Mata Ie. Air lautnya, hijau kebitu-biruan. Disini kita bisa melihat terumbu karang, ikan-ikan kecil yang cantik. Rasa lelah pun hilang, terbayar dengan indahnya pantai ini. Subhanallah!! Begitu indah ciptaan-Nya.

Di sudut-sudut pantai tersebut sudah ada orang-orang yang menginap dari hari sebelumnya. Semuanya LELAKI. Hahaha... Cuma kami yang perempuan-perempuan tangguh (Sorry lupa, ada 1 laki-laki yg ikut rombonganku).. Gak salah saat aku bilang "Wow, kita masuk ke sarang singa".. :)

Foto disamping, adalah sebagian cewek-cewek tangguh yang ikut mendaki. Kami mau melihat gua, sebagian lagi menjaga barang-barang yang kami bawa. Pasir di laut ini putih banget.. Kapan ya bisa ke sini lagi??

oiya, Jalan ke gua ternyata lebih sulit dari saat kamu mendaki. Banyaaak sekali pohon-pohon berduri..
Tapi itu tidak mengendurkan semangat kami.. :)
Guanya itu agak serupa lubang besar di tebing, jadi kami mendaki sedikit lebih tinggi. Saat kami berada diatas kami dapat melihat laut yang berwarna hijau..

Dan pada pukul 5 sore kami pulang dan tiba dengan selamat!!
Ujong Pancu wajib dikunjungi, lagi!!


Sunday, January 2, 2011

New Year

Happy New Year!! ^_^

Selamat Tahun Baru..

Welcome 2011..

Tahun baru sama dengan harapan baru
Tahun baru bukan baju baru
Tahun baru itu terus maju
Tahun baru kembali maju

Buat apa menguras dompet
dengan tiup terompet
Yang penting jangan merepet
Kalau ternyata hidup kepepet..

Terus tersenyum
walau ternyata tak harum

Perbaiki diri itu lebih penting
dari pada terus meratapi..

Ambil yang bagus, buang yang buruk..

Selamat datang Tahun baru..
Selamat datang harapan baru..
Selamat datang 2011.. ^_^

Sunday, December 19, 2010

Life is all about a choice

Hidup itu semua tentang pilihan. Hidup yang hari ini kita jalani merupakan akumulasi dari pilihan yang telah kita ambil kemarin, minggu lalu, bahkan tahun lalu. Baik buruknya hidup semua tergantung dengan pilihan yang telah diputuskan, apakah pilihan itu baik atau buruk.

Kalau hidup  tentang pilihan, maka pilihan mendatangkan konsekuensi. Ketika satu pilihan telah diambil dan kita dihadapi dengan konsekuensi yang tidak diharapkan, maka pilihan tetap harus dijalani, tidak bisa mundur.
Seperti puisi terkenal dari pengarang terkenal Robert Frost, silahkan dibaca:

THE ROAD NOT TAKEN

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both,
And be one traveler, long I stood,
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

And took the other, just as fair,
and having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I marked the first for another day!
Yet knowing how way leads on the way
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Ini salah satu puisi favorit aku. Maknanya dalam bangeet!!
Jika kita telah mengambil satu pilihan lengkap dengan segala konsekuensinya dan ternyata kita menyesal, kita tidak bisa kembali untuk mengambil pilhan yang satunya.
So, pilihlah jalan yang paling baik, yang paling bermanfaat, dan yang paling nyaman yang bisa kamu ambil karena hidup itu semua tentang pilihan. ^_^

Monday, December 13, 2010

Elements of Drama

Here are some elements of drama!

  1. Character
Character remains the basic raw material from which plots are created by the playwright. It is the interaction, conflicts and manipulation of characters by the playwright that gives rise to plots. Most simply put, a character is the main source from which a plot is derived. Dramatic action mood and dialogue are portrayed by characters. Sometimes, characters are created to suit are already established plot, or a plot is woven to suit established characters. Either way, the characters are essential to the enactment of the plot. Windapo (2000:7)
The strength or weakness of a character is revealed through characterization. Characterization is the means through which one character in differentiated another. In the first instance, a character in revealed, as laid down by O. Brockett 1980:27 through descriptions in stage, directions, prefaces, or other explanatory material not part of the dialogue; through what the character says; through what others say about him, and most important, through what he does.
There are four levels of identifying characterization; physical, social, psychological and moral.
PHYSICAL – This is characterization bordering on physical attributes as age, sex, size and color.
SOCIAL - This reveals a character’s religion, family relationships, trade, economic status etc.
PSYCHOLOGICAL - This delves into the character’s frame of mind in terms of habits, desires, motivations, dos and don’ts, likes and dislikes.
MORAL – This examines decisions taken by characters which are premised on motives, which reveal the true nature of the character. Still on the subject levels of characterization, Brockett, goes on that; A playwright can emphasize one or more of the these levels and may assign many or few traits, depending on how the character functions in the play. For example, the audience needs to know very little about a maid who appears only to announce dinner. The principal characters, on the other hand, should be drawn in considerable depth.
Brockett (1980:27)
Characters and characterization are therefore important in any given plot.
For while characters, give meaning to the plot, characterization gives meaning to the characters.

  1. Theme
While some writers would want to differentiate thought as being distinct from theme, others would use the terms interchangeably to refer to one and the same. We shall assign here with the latter as it is our opinion that it is difficult to differentiate thought from theme or vice-versa. Thought then is the main or central idea running through a play. It includes the themes, concepts and ideas, arguments, and over-all meaning in the play. All plays, no matter the genre; tragedy, comedy, farce, tragicomedy,
Every good play should have a thought running through it that should be quite identifiable, although some plays need closer study before revealing the thought they harbour.



  1. Diction (Dialogue)
The medium of expression through which characters in a play express their thoughts in words is known as diction. In drama, Diction or language is dialogue. Dialogue is verbal means of communication between characters whereby they exchange ideas in a play. The unfolding of plot in a play rests on dialogue between characters.“Dialogue provides the substance of a play.Each word uttered by the character furthersthe business of the play, contributes to itseffect as a whole… the exposition of the play often falls on the dialogue of characters.
Sianghio (2005:5)
Dialogue gives information, reveals character, directs play and audience attention, reveals play themes and ideas, establish tone or mood and level of probability, and directs tempo and rhythm. Usually dialogue in a play is verbal exchange between characters, but where one character speaks to him or herself on stage it is referred to as soliloquy. Soliloquies are of great importance when they occur in a play because they reveal the innermost secrets, desires or thoughts of characters.
Diction in plays is not as informal or free flowing as in normal everyday conversation, rather it tends to be more abstract and formal. This is because the playwright selects, arranges and elevates language through the use of rhythm, rhyme and precision of ideas, thoughts and feelings.
Characters, therefore, are more articulate in dialogue, presenting their ideas
and thoughts in a more concise and deliberate manner. (Brockett 1980:30).
The basic criterion for judging diction is its appropriateness to the characters, the situation, the level of probability, and the type of play.



  1. Conflict
[Dramatic conflict is] the spectacle of the will striving toward a goal, and conscious of the means which it employs. -- Ferdinand Brunetiere
Conflict is the heart of drama.
The Greek word agon means "contest" or "struggle," and could be applied to a sporting event or a debate. (Compare protagonist and antagonist.)
Brunetiere describes several different kinds of conflict:
  • the individual vs. fatality (that is, a fight for survival)
  • the individual vs. social law (justice, morality, etc.)
  • the individual vs. another person
  • the individual vs. himself
  • the individual vs. "the ambitions, the interests, the prejudices, the folly, the malevolence of those who surround him"


  1. SPECTACLE
This deals with the visual aspects which helps to increase the aesthetic quality of a play. These include, costumes, lighting, settings, properties, movement of characters on stage, dance, mime etc. To Aristotle, spectacle is the least artistic of the elements of drama because it depends more on the art of the stage craftsman, rather than on the playwright.
Although the playwright may sometime recommend and prescribe visual elements in the stage directions, he however, does not have full control over them. The interpretation of the script and the directions is that of the director, actors and the production crew.
As Brockett (1980:32) laid out, functions of spectacle include that (I) It gives information (establishing where and when the action occurs), it aids characterization, it helps establish the level of probability (an abstract setting suggest one level of reality, while a realistic one suggests another), and it establishes mood and atmosphere.
Good drama, be it text or performance then, must comprise of the above elements in good proportions. It is their in the hands of an able playwright or dramatist that brings forth the beauty in dramatic composition. A good knowledge of these elements also helps in the area of literary appreciation to the critic. By and large, it can be said that the elements of drama form the bedrock of dramatic literature, appreciation and production.


REFERENCES

Butcher S.H. (2005) Poetics by Aristotle: From
www.libertyonline.hypermall.com
Huber R.C. (2005) Drama Page: From www.afronoid.tripod.com
Iwuchukwu L.V. (1999) The Essentials of Literature in English: Lagos, The
Poet Books.
Brockett O.G.(1980) The Essential Theatre:New York , Holt, Rinhert and
Winston.
Jacobus L.A. (1996) The Compact Bedford Introduction to Drama: Boston ,
Bedford Books.
Windapo O.O. (2000) Introduction to Drama Minor: Ibadan, Joytal Press.

Playfull Kiss


poster playfull kiss
Ini dia drama barunya Kim Hyun Joong, Playfull Kiss atau Naughty Kiss. Drama ini diangkat dari manga populer, Ita Zura na Kiss. Drama ini lebih asik dari versi Taiwan, It started with a kiss, (menurut saya loh!). Lebih korea, lebih geregetan.

Kisah tentang cowok cool, smart (punya IQ 200 euy!), dan juga ganteng, Baek Seung Jo, yang dikejar-kejar oleh Oh Ha Ni, cewek bodoh, ceroboh, tapi imuuut. Walaupun Oh Ha Ni itu gak pinter, dia akal bisa kalau mau berusaha. Oh Ha Ni diperankan oleh Jung So Min.

Dramanya lucu juga sedih. Pokoknya, jantung seperti naik roller coster. Seruuuuu!!

Penasaran?? So Guys, Jangan lupa ditonton..