Showing posts with label curhatku. Show all posts
Showing posts with label curhatku. Show all posts

Thursday, July 11, 2013

Ramadan comes. That memory is back.

Ramadan comes. One year more without you, Papa.

I still remember that night. When my mom woke me up and told me that my beloved papa had passed away. I woke in puzzled and shocked. “What’s goin’ on right now?”

Many people were standing around my bed, they were crying and finally I saw my papa right in front my eyes. But he was sleeping, deep sleep.

I was just twelve yeasr old when he left me for forever. I never imagined something bad happened to me who was still very, very young. At that night, my family and I just arrived home. I know my papa was sick, but he could walk by himself. He went to see a doctor, came back home, and took medicine. Suddenly my papa was taken to the hospital because he was getting weak. I didn’t really understand the situation that night. The doctor said my papa got heart attack.

He passed away at 2AM in December 2000, 15th of Ramadan. It’s been thirteen years without him now.

Since then, I always miss my papa. Sometimes, I wonder how my life is if he didn’t leave me. Ahh… I do miss my papa; his voice, his face, his wise word, his silence, even his anger.




Allah mengambil kembali yang telah menjadi milik-Nya, tapi Allah juga memberikan seseorang yang dapat mengurangi rasa rindu dan sedih kami sekeluarga. Sesungguhnya kematian adalah awal dari sebuah kehidupan abadi. Semoga ayah diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Semoga kami sekeluarga dapat berkumpul kembali di surga-Mu Ya Allah. Amin.


Thursday, September 13, 2012

My Confession


When I start dating a guy, just call him Moody anyway, I thought I like him as someone special. As the time went fast, I realized my feeling was not that deep enough to be his special. When he decided to break up our relationship, I was sad, I cried, I was angry. Why? It hurt my pride actually. However, it didn’t take a long time for me to start a conversation again with him. At that time, I thought why I could talk to him easily while I cannot this easy with Jei. After we broke up, as months passed, I realized once again that I should thank him for letting me go. If I was still with him, it would hurt both of us. See. I wonder whether I ever love him once.

Relationship will not last forever when we force each other to be together. I can’t make him happy. He will hurt my feeling. Then why we should be together when we can’t be happy? And he is a silent type guy. He didn’t tell me what wrong is and where. It will lead us miscommunication and hurt us deeply again.

Now, I like him still. But in different form. I like him as a friend. I move on and he should also move on. I believe he will.

Saturday, September 8, 2012

Still with The Inital

Actually, it's really surprising Jei, I come and see how you spend your day today. It's even more surprising to see your name on my mobile screen. You're still you. No change. You still use the same perfume, the same hairstyle, and has the same joke.
No matter how long it has been, we are still friend as we ever became a close friend. I'm just happy for this situation. Losing you as a friend is a big waste. 
So Jei, please be the same Jei when we meet another day.

Friday, September 7, 2012

The Initial - Jei


Cerita ini berangkat dari kisah lima tahun yang lalu. Kisah yang benar-benar pendek untuk diceritakan ulang. Kisah yang menimbulkan tanda tanya bagi banyak orang tapi tidak untuk beberapa orang.

Bermula ketika gadis bertemu Jei, anak baru di kelas. Tidak ada hal yang menarik dengan diri Jei. Gadis hanya tetap duduk dibangkunya, tidak pun melirik. Suatu hari Jei yang penasaran menegur Gadis, “hei! Ngapain?”. Gadis yang saat itu tidak mengenal Jei hanya jawab sekenanya. Begitulah seterusnya hingga……

Guru wali kelas menyuruh kami mengambil buku ke perpus, disaat itu lah Jei membuat nama julukan untuk Gadis. Nama ini awalnya hanya digunakan Jei, tapi pada akhirnya digunakan oleh semua siswa di sekolah. Darisinilah kedekatan mereka terjalin. Dari satu bulan hingga satu tahun. Mereka benar-benar sehati.

Singkat cerita, saat mereka mulai masuk ke hubungan yg lebih special, ada sikap-sikap Jei yang berubah. Hal itu sangat mengganggu Gadis. Gadis tidak mengerti dimana yang salah. Hal itu membuat Gadis sedih, benar-benar sedih.


Dear Jei. I don’t even dare to say your name or even look at your eyes again. It hurts me until now. I don’t know why I can feel this way. Every time I meet you, my heart and the whole body start aching. Can you just tell me what should I do? Then I won’t feel anything in front of you.
 Oh Jei, If only you know what I have been through this past years. It was hard. The days could pass as if nothing happen on me, but not the day I met you. This is a reason why I can’t come when gathering is made. Why Jei? You walk the road happily. You pass the day smiley. You continue you life. It is great. I am happy for you Jei. Really and truly. Until now, I wonder why I become like this and how long it will take.  

Tuesday, June 26, 2012

This Life


Hmm.. What a life!

I write this not because I’m not satisfied about my life. I do appreciate the life I have now. I have parent who loves me much, sisters and brothers and best friends who have made my life more colorful.

This story has been started about eleven years ago, but I won’t tell you a lot now.
In 2000 my father passed away because of heart attack. I was so sad and crying along day. It was not a long time from that day I should continue my study to boarding school. I thought I would be fine and I was fine. I met many friends from another district in my province. The most important thing was that I was happy.

Two years later, my mom visited me in the school. She brought the news that I never imagined before. She said she would get married with someone I didn’t know. I didn’t know how he looks, whether he was a good man or not. Can you imagine? I objected extremely, but my mom didn’t listen to my opinion.

In short, I don’t get along with him until now. There is too much his side I don’t really like. It is not because I don’t respect him as my step father now, but it is more how we see the life, how we communicate each other, and how we face the problems. I can’t tell this to my mom, it will break my mom’s heart and she will be disappointed. All I can do is keep silent although it will blow my brain out.

I think there is no much change in my life with or without him. I don’t speak to him if it’s not important, I will avoid him to be in the same room as me. Call me selfish! I don’t really care. ^^
And now I miss my father a lot. It has been 12 years since you left me I can be strong and will be strong.

Hmm.. What a life! ^^

Tuesday, June 12, 2012

LUKA

Waktu menyembuhkan luka. Klise memang, tapi benar adanya.
Tapi ada satu hal yang kita lupakan, bukankah luka terkadang meninggalkan bekas??
Apa yang harus dilakukan agar “bekas luka” tersebut hilang?
Bagiku, tak ada satu pun hal yang dapat menghilangkan “bekas luka” (kecuali dengan bioplasenton ^^)

Yaa, memang tak ada. “Bekas luka” adalah sebuah masa lalu, arti bahwa kita pernah hidup dan sakit dan akhirnya sembuh. “Bekas luka” merupakan sebuah pelajaran hidup yang berarti terus memperbaiki diri.
“Bekas luka” mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati, bersikap sabar dan lebih menghargai hidup.

Karena ia bernama “bekas luka”, maka artinya luka telah benar-benar sembuh. Tak ada lagi sakit di hati dan yang terpenting berdamailah dengan si “pemberi luka”.
Ingatlah bahwa luka adalah sebuah proses pendewasaan diri.
Berbahagialah karena luka telah mampu mengubah cara pandang yang selama ini salah.

Dan aku? Aku telah lama menerima “bekas luka”ku. ^^

Wednesday, October 12, 2011

TITIK

. . .
. . .

Tak perlu ada orang lain yang menjelaskan padaku kalau aku itu sakit. Aku benar tak butuh dokter. Aku memang sakit. Parahnya, dokter belum temukan obatnya. Aku memang sakit. Gilanya, aku merasa tak mau disembuhkan. Oke, oke. Aku belum temukan cara untuk menyembuhkannya. Penyakit ini sudah menyebar keseluruh system di tubuhku ini, menyerang ketahanan tubuhku, mengganggu kinerja otakku, dan melumpuhkan hatiku.
Satu sisi tubuhku berteriak kencang. Bangkit! Bangkit! Berjuang! Bagaimana aku bisa memulai sesuatu yang baru, menjalani hidupku lagi kalau aku belum rela memberikan akhir pada hari ini.

Jika kau ingin menjalani hari baru, maka berikan akhir pada hal yang mengganjal hatimu. Sebuah kalimat diakhiri dengan sebuah titik. Titik menandakan awal kalimat yang baru.  Ciptakan sebuah titik hingga kau dapat mengucapkan ‘sampai jumpa’ bukannya ‘selamat tinggal’.

Seperti malam ini, aku tiba pada satu titik. Titik perubahan. Titik yang menandakan aku untuk melanjutkan hidup. Titik kesembuhanku.

Tentang Masa Lalu (Part 3)

Ternyata waktu setahun, hampir dua, gak cukup untuk cari satu alasan tepat untuk mengisi ruang kecil dihati, sebut saja X area. Kita boleh tertawa, kita juga boleh hang out bareng tapi jauh dari itu, kita seperti memakai topeng. Kita berdua gak sadar kalau kita udah melakukan kejahatan ke satu sama lain dan juga diri kita sendiri. Dan DIAM juga bukan satu pemecahan.

Oleh karena itu, aku akan menyelamatkan kita. Setidaknya, ada sebuah persahabatan disana. Kita tidak boleh terus menyakiti walau senyum tetap tersungging. Tak perlu menghabiskan waktu kita. Tak perlu lagi menyakiti. Dan yang terpenting tak perlu berbohong. Kalau dulu aku selalu menafikan kata hati, sekarang saatnya mendengar kembali. Karena hanya dengan kata hati X area dapat benar-benar terisi.

Oh, ini bukan cinta semata. Ini benar-benar tentang kata hati. Jatuh dan patah hati merupakan rumus dalam percintaan, mendengarkan kata hati itu hal yang paling penting. Satu hal yang pasti bukan karena benci, aku mengambil langkah ini.

Ada secuil bagian dari kita yang patut dikenang. Rasanya sebuah persahabatan terlalu berharga untuk ditukar dengan kebencian karena aku terlalu mencintaimu, terlalu menyayangimu. Sehingga akan salah jadinya jika harus diakhiri dengan sebuah permusuhan. Ini bukan perkara mudah, tapi sebuah awal baru supaya kita bisa move on. Hidup gak boleh stuck disatu tempat. Kamu melangkah maju. Dan aku akan terus mendengar kata hati untuk bisa mengisi X area ini.












***

Thursday, September 15, 2011

Bee Colony

Bumble bee is really something to me. It all about loving, caring, fighting, eating, crying, and chatting all day long. It’s all about us (minjem kata2nya ceriwis). So here’re the ones who have made my life brighter, exciting, challenging, and so on, and so on…………………………..

My Fera Busfina Zalha - kamu tuh gak ada duanya di dunia. Thanks untuk percakapan from our first meeting (depan jurusan, nunguin Pak Anwar, ingat?), untuk jadi tempat bertanya (structure itu emang menyebalkan kadang), dan untuk kehebohannya (hilang ini-itu, jatuh ini-itu).

My Sri ‘Ji Hoon’ Wahyuni (penting gak si nambahin Ji Hoon ditengah?) – I envy you karena terlalu imut. And many thanks for your time, for our long night chat. It’s really mean to me. Dan tak kalah pentingnya thanks buat kerelaan hatinya untuk membantuku menjalankan bisnis.

My Karlina Mutia – kamu akan terus jadi tempat bertanyaku tentang fashion (apa nama barang yang  ini. Gimana cara makenya. Apa nama barang yang itu. Apa nama kain itu, dan segalanya tentang fashion). Mungkin aku bakal terus out of date tanpa kamu, Kar. Makasih buat pelajaran-pelajaran yang gak ada diajarkan di kampus.

My Fajrinur – kita punya hobi yang sama. Sama-sama suka baca novel (catat ya, novel! Bukan textbook. :P). Jadi almost topic yang diperbincangkan pasti berkisar tentang “eh, uda baca novel ini? Atau eh, novel ini seru gak? Atau ngapain? Keluar yuk cari novel! Atau minta film dunks”. Yah satu lagi kesamaan, pelototin film. Apa jadinya aku tanpamu dan hobi kita.

My Nurul Latifa – kalau kamu, apa jadinya bumble bee tanpamu, hun! Lucu, ceria, malah yang bikin tambah lucu adalah kamu tuh bisa menertawakan suara ketawamu sendiri (coba ingat saat kita bukber di warnek). Walau kadang-kadang bahasa Indonesiamu kacau (kebanyakan belajar English ya?), kamu pasti yang paling aktif. Organisasi sana-sini, pergi sana-sini. Tapi walaupun demikian, makasih buat semua hal pernah kamu lakukan buatku, buat kita.


Buat all of my best friend ever,
Entah jadi apa hidupku tanpa kalian, as I said before, kalian mencerahkan hari-hariku. Kalian punya pengaruh positif buatku. Penyuntik semangat, juga pengingat. Love you much, much, and much! Perhatian dan pengertian yang kalian tumpah ruahkan kepadaku itu benar-benar sesuatu (kata2 siapa yah ini?). Thanks guys and keep fighting! ^_^ 

Tuesday, September 13, 2011

“QUOTES FOR YOU, BUMBLE BEE”

“As we grow up, we learn that even the one person that wasn’t supposed to ever let us down, probably will. You’ll have your heart broken and you’ll break others’ heart. You’ll fight with your best friends or maybe even fall in love with them, and you’ll cry because time is flying by.

So, take a lot of pictures, laugh a lot, forgive freely, and love like you’ve never been hurt. Life comes with no guarantees, no time outs, and no second chances. You just have to live life the fullest, tell someone what they mean to you, speak out, dance in the pouring rain, hold someone’s hand, comfort a friend in need, fall asleep watching the sun comes up, stay up late, and smile until your face hurts. Don’t be afraid to take chance or fall in love and most of all, LIVE THE MOMENT because every second you spend angry or upset is a second of happiness you can never get back.”1

See, it doesn’t matter how much we laugh or how many times we do silly things, because we live in the moment, we create our memories. Sweet memory if I can add. Remember our conversation? Tentang keharusan mengurangi haha-hihi-gak-jelas? Good idea, but………………………………………..

Haha-hihi-gak-jelas itu perlu karena ketika nanti kita bertengkar (I really hope not) atau down abis, hal-hal yang seperti itu bakal jadi obat. Biarin aja dibilangin norak (do you, especially for Fe and Sri remember? Barata in Lebaran day?). We took some pics there – bener2 pengalaman pertamaku ber-pose disana. Biarin juga orang-orang bertanya-tanya kok kita betah ya duduk berjam-jam ngolor-ngidul (suer, rame lho yang nanyak!). Biarin aja orang-orang pada mikir kita tuh rame nyaingin orang2 sekompi? Hal-hal yang seperti itu bakal jadi obat.

It is our world, our happiness.

Ingat ya kapan-kapan bisa jadi OBAT. Kalau bukan sekarang, mungkin nanti. Dua tahun kedepan? Lima? Sepuluh? Atau lima belas tahun kedepan? (I wonder how old I will be, J).
Obat buat kesedihan, obat buat rasa kangen yang menggigit, obat buat rasa jenuh saat dihadapkan dengan banyak masalah. Atau obat buat sakit hati? Patah hati? J
I think yaaa, bisa aja mensejajarkan sikap penuh bijaksana dg sikap haha-hihi-gak-jelas (somebody, please makes this phrase shorter). Mungkin kita harus melihat siapa yang menjadi lawan bicara, atau ciptakan kesan manis saat bertemu orang baru? (kesan pertama pentingkan) Hmm, any other good idea guys??


At least, at this moment;

“Bernyanyilah seperti tidak ada orang yang mendengar.
Menarilah seakan tidak ada yang melihat, dan
Mencintailah seakan tidak ada yang membenci”2

Ndak perlu dipusingin burung-burung yang berkicau diluar sana (baca: orang2). Tiap orang menjalani hidup yang berbeda. Suatu hari kita pasti tertawa saat mengingat ‘this moment’. Bet me? The most important thing is that we live our life happily and catch our dream.

Again, it is our world, our happiness. ^_^



 Note:
1  a short beautiful paragraph from Antologi Rasa, Ika Natassa
2 a quote from Mario Teguh

Thursday, April 7, 2011

Tiada nama buat 'ini'

Entah dari mana aku dapat memulai menggambarkan satu sisi hidupku.

Ini adalah hal yang sama ku rasakan empat tahun silam.
Sebetulnya, aku tak pernah siap mengecap kembali rasa empat tahun silam, karenanya begitu suram. Terlalu banyak waktu terbuang untukku mencari penawar.
Bahkan hingga saat ku mulai merangkai kata per kata, air mata tak berhenti mengalir.

Rasanya jelas terasa. Jiwa ku sakit, fisikku jua. Berapa banyak lagi obat yang harus ku tebus? Hingga jiwa ini merapuh?

Takkan bisa ku bayangkan seperti apa rasa itu. Hanya dengan memikirkanmu, butiran ini tak sanggup ku bendung. Hanya dengan mendengar suaramu, tanganku tak sanggup bertahan.
Ku pikir aku kuat, tapi ternyata tak sekuat itu.

Kini, aku takut!

Thursday, January 20, 2011

Tentang Masa Lalu (part 2)

Bagaimana berdamai dengan masa lalu?

Ini bukan tentang mereka. Ini bukan tentang kalian. Ini tentang aku. Biarkan kali ini aku bercerita karena ini kisahku. Salah satu frame yang pernah aku lalui. Butuh waktu yang panjang untuk dapat berdiri disini. Entah sudah berapa malam terlewat sehingga dapat menegakkan punggung. Entah berapa hari yang terlewat untuk mengatasi sakit yang mendera, tangan yang bergetar dan kesemutan, perih hingga kedalam tulang, seluruh tubuh bergetar. Tapi itu masa lalu dari proses hidupku berdamai dengan masa lalu.
Aku memaafkan, berusaha merelakan. Itu merupakan cara pandangku dulu untuk mengatasi masa lalu. Setelah bertahun-tahun berlalu dengan segala upayaku, akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa aku belum bisa berdamai dengan masa laluku. Bukan, ini bukan tentang masa laluku tapi tentang diriku. Aku telah memaafkan tapi aku belum bisa melepaskan. Aku masih berada dalam kungkungan itu. Aku belum bisa mengikhlaskannya, tidak membiarkan masa lalu itu berlalu. Aku berusaha masuk kembali kedalam hidupnya. Padahal, satu hal yang pasti, aku sedang menyiksa diriku.
Aku membenci masa laluku, dulu. Aku menghindari segala hal yang bersinggungan dengan masa lalu. Sampai suatu hari, disaat aku menyadari bahwa tindakan ini akan aku sesali, sekarang. Aku menyesal telah mengenyahkan masa laluku, karena tidak semua hal yang terjadi itu buruk. Ada hal indah disana, sebuah persahabatan. Persahabatan yang mungkin tidak dapat ku jumpai lagi pada frame-frame lain dari kehidupanku.
Saat ini, saat aku telah berdamai dengannya, aku tersenyum menyapa, aku ceria tertawa, tanpa ada rasa sakit, tanpa ada dendam. Kadang, aku menunggu datangnya rasa pedih itu. Menunggu kapan tubuhku kembali mengigil. Tapi tidak, tidak lagi karena ku telah berdamai dengan diriku.
Bukan waktu yang singkat ku habiskan untuk mendamaikanku dengan diriku sendiri. Juga bukan hal yang mudah untuk berdamai dengan masa laluku. Waktu mengubahku, pengalaman mengasahku untuk bisa berdiri disini, mengulang kembali masa lalu, mengenang lagi hal yang lalu. Ini bukan perkara baru. Detik ini, semua semudah helaan nafas.

Tentang Masa Lalu

Bagaimanapun caranya, seperih apapun ceritanya, masa lalu tetaplah masa lalu. Walaupun hati ingin mengingkari, mata menghindari, tetapi masa lalu tetap bagian dari hidup.
Pahit, asam, asin, manis itu wajar. Namanya kehidupan.
Tangis, canda, tawa, kecewa itu biasa. Namanya bumbu pelengkap.
Apalah jadinya kehidupan jika semuanya tangisan? Betapa suramnya hidup kalau warna semua sama hitam, kelam.

Tidak semua frame itu jelek. Coba lihat yang ada disebelahnya, warnanya cerah, penuh bunga, membawa kebahagiaan. Jangan gara-gara satu frame yang jelek, maka semua frame itu buruk, busuk, dan tidak berharga
Kalau salah satu farame kehidupan itu tentang kepedihan, bersabar! Kehidupankan tidak hanya berisi satu frame. Masih banyak frame yang harus diisi, senyuman untuk dibagi, kebahagiaan untuk dirasa, kekecewaan untuk segera dihapus.

Kepahitan masa lalu tidak dapat diubah, framenya sudah diisi, disegel, digembok. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat bongkar pasang frame itu. Hanya saja kita, makhluk paling lemah, dapat berdamai dengannya, mengikhlaskan!
Jadi, ketika mengingatnya, tak ada lagi sakit. Ketika melihatnya, tak ada lagi air mata. Ketika mata terpejam, tak ada lagi nafas yang tersendat, dada yang nyeri, dan tak ada lagi tangan yang kesemutan.
Hati bebas, perasaan lepas.. ^_^